Warga di setiap negara mempunyai kebiasaan positif dan negatif, termasuk di Amerika, negara yang multikultur. Kebiasaan tersebut ada yang patut dicontoh, ada yang tidak.
Berikut hal-hal positif yang pernah saya temui di Amerika:
1. Hampir selalu tepat waktu dalam setiap hal, termasuk jadwal kedatangan alat transportasi, kalaupun ada keterlambatan, biasanya tidak lebih dari 3-5 menit.
2. Saat di transportasi umum, hampir selalu melihat orang-orang membaca buku baik itu paper book maupun e-book. Daya baca masyarakatnya tinggi.
3. Sering terdengar kata sapaan ramah, "How are you?" "Have a good day," dan sejenisnya, meskipun dari orang yang ga dikenal, terutama kasir toko ato pelayanan publik.
4. Apabila ada yang bersin, hampir selalu ada orang disekitarnya yang mengucapkan, "Bless you."
5. Lebih senang berjalan kaki, meskipun relatif jauh.
Namun, ada juga hal-hal yang menurut saya kurang patut dicontoh, misalnya:
1. Sering terdengar musik yang disetel keras-keras di mobil, apalagi saat berhenti di lampu merah. Kadang ada musik rap, bollywood, arab dll, tapi belum pernah dengar dangdutan. Hehe.
2. Ga jarang mendengar orang "teriak-teriak" di jalan, baik itu manggil seseorang, mengumpat, ataupun sedang menelepon.
3. Sering melihat bekas permen karet berupa bulatan2 kecil yang sudah menghitam di trotoar
4. Kalo ada masalah lalu lintas antar pengguna kendaraan, mereka ga segan-segan membunyikan klakson lama-lama, bisa sampai 10-30 detik, baik itu terus menerus maupun putus-putus.
Hal-hal lain yang sering terlihat yaitu:
1. Orang-orang sering menggunakan semacam trolley-cart/ kereta dorong untuk berbelanja bila antara tempat belanja dan tempat tinggalnya dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
2. Para balita lebih sering diajak jalan-jalan dengan menggunakan stroller/ kereta dorong bayi daripada dipangku.
3. Sering terlihat orang berjalan-jalan bersama anjingnya. Di beberapa kota dan negara bagian di Amerika, mewajibkan pemilik anjing untuk memungut/ membersihkan kotoran anjingnya, seperti di New York City dan Iowa City, serta negara bagian Virginia dan New Jersey.
4. Pada hari-hari biasa, mall dan bioskop di Amerika tampak sepi pengunjung.
Keterbatasan tempat parkir di kota-kota besar di AS sering menjadi hal yang membuat warga lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada membawa kendaraan pribadi. Selain itu, kesadaran warga yang cukup tinggi terhadap lingkungan juga membuat mereka lebih memilih transportasi umum, karena dengan menggunakan transportasi umum, maka akan mengurangi jumlah emisi karbondioksida.
Pada artikel ini, saya akan membahas tentang bagaimana menggunakan transportasi umum dalam kota di AS, khususnya bus.
Bus yang digunakan
Bus yang banyak digunakan untuk transportasi umum dalam kota di AS yaitu bus ramah lingkungan Hybrid Electric Bus dan juga bisa "berlutut" alias kneeling bus (low-floor bus), bus ini akan merendahkan bagian pintu masuk depan (kanan bus) sehingga memudahkan penumpang saat menaiki kendaraan tersebut, khususnya para disabled yang menggunakan kursi roda.
Kneeling Bus. Sumber: michaeltaylor.ca
"Berlutut." Sumber: membres.multimania.fr
Kemudahan bagi para disabled
Halte Bus (Bus Stop)
Amerika negara tertib, jadi bus pun tertib dengan hanya menaikkan dan menurunkan penumpang di halte bus. Tidak seperti di Indonesia, bus kotanya bisa menaikkan dan menurunkan penumpang di mana saja. Jarak antara halte satu dengan halte lainnya biasanya berjarak satu blok atau tiap persimpangan jalan besar. Selain itu, tidak seperti halte Trans Jakarta, Jogja Trans, ataupun halte bus kota biasa yang trotoarnya relatif tinggi, trotoar halte di AS cenderung lebih rendah.
Sebagian besar halte mempunyai layar jadwal kedatangan bus, sehingga kita dapat mengetahui berapa menit lagi bus yang ditunggu akan datang.
Jadwal bus di halte
Selain dari jadwal yang ada di halte, jadwal kedatangan bus juga dapat diakses lewat internet di situs penyedia jasa transportasi di kota tersebut, di New York City misalnya NYCTA (New York City Transit Authority) atau disebut juga MTA (Metropolitan Transportation Authority), di Chicago misalnya CTA (Chicago Transit Authority), selain dari situs tersebut kita juga bisa mengeceknya lewat aplikasi bus tracker pada smartphone.
Cara pembayaran
Cara pembayaran bisa berupa uang tunai (koin atau kertas), kartu kredit atau debit, maupun kartu langganan bus. Biasanya penyedia jasa transportasi menyediakan berbagai macam kartu langganan, misalnya:
a. Transit Card
Nilai uang yang ada di dalam kartu ini akan dikurangi tiap kali kita menggunakan transportasi umum, namun bila kita menggunakan transportasi umum lagi sebelum periode tertentu (misal kurang dari 2 jam), maka hanya akan dikenakan biaya transit, lebih murah dari tarif saat pertama kali naik (biasanya seperempatnya). Kartu ini dapat digunakan sepanjang masa berlakunya belum habis (bisa lebih dari satu tahun) dan selama kita masih menambahkan nilai uang ke dalamnya. Kartu ini dapat diperoleh secara gratis dari vending machine yang biasanya ada di train stop, kita hanya tinggal menambahkan sejumlah uang untuk keperluan transportasinya saja. Kartu ini cocok untuk penggunaan transportasi umum yang jarang atau hanya sesekali saja, juga untuk para turis.
b. Passes
Kartu ini digunakan untuk berlangganan bus selama periode tertentu, misalnya harian, mingguan, ataupun bulanan. Jadi, selama periode tersebut kita bisa menggunakan kartu ini kapan saja, sesering mungkin, tapi kartu ini tidak bisa digunakan secara berurutan dalam bus atau train stop yang sama kurang dari jangka waktu tertentu (biasanya 30 menit). Bila kartu ini hilang, maka kita tidak bisa dapat kartu penggantinya, maka jagalah kartu ini dengan baik. Selain itu, hindari kontak dengan hal-hal yang bermagnet seperti telpon seluler, dompet yang menggunakan magnet untuk "mengunci"nya, TV, dll. Kartu ini dapat dibeli di kantor penyedia jasa transportasi, di grocery stores (Walgreens, Walmart, Dominick's, Jewel-Osco, CVS), currency exchange, dll. Bila kartu ini tidak bisa terbaca oleh mesin, coba di mesin yang lain atau hubungi petugas jaga.
c. Tap Card
Penggunaan kartu ini hampir sama dengan transit card maupun passes, hanya saja kartu ini bisa memberikan akses yang lebih cepat, karena kita hanya menyentuhkan kartu ini ke mesin khususnya. Sedangkan transit card atau passes butuh waktu yang lebih lama karena perlu waktu untuk memasukkan kartu, menunggu kartu terbaca, dan menunggu kartu dikeluarkan lagi dari fare machine nya. Namun, untuk masalah tarif, kartu ini hampir sama dengan transit card yang bayar per tiap kali menggunakan transportasi umum, hanya saja kita dikenakan biaya pembelian kartu di awal, dan selanjutnya kita hanya tinggal mengisi ulang. Ada pula kartu "plus" yang memberikan kemudahan pembayaran online yang otomatis terhubung ke rekening pribadi, dan memberikan penawaran langganan bulanan unlimited.
Vending machine for transit card. Sumber: transitchicago.com
Tap card. Sumber: wikipedia.com
Transit card dan 30 day pass
Masuk ke bus
Masuklah lewat pintu depan dimana fare machine berada. Tidak diperbolehkan masuk lewat pintu belakang apalagi agar tidak ketahuan/ tidak membayar, karena meskipun tidak ada kondektur, kamera CCTV yang terpasang mengarah ke pintu dari luar bus akan merekamnya.
Bus fare machine. Sumber: flickr.com/photos/nickbastian
Di dalam bus
Yang cukup menarik dalam bus ini yaitu adanya priority seating yang terletak di kursi bagian depan bus, kursi ini dikhususkan untuk para lanjut usia, ibu hamil, dan para disabled. Bila kursi tersebut kosong kita boleh mendudukinya, namun bila ada penumpang yang diprioritaskan maka kita harus menawarkan kursi kepada penumpang prioritas tersebut.
Bila bus penuh maka kita berdiri sambil memegang tiang atau pegangan yg sudah disediakan, selain itu dianjurkan mundur ke bagian belakang bus agar dapat memberikan ruang bagi penumpang yang baru masuk lainnya. Saat berdiri, sebaiknya posisi badan menghadap ke samping kiri atau kanan (ke arah jendela bus), agar saat bus mulai melaju cepat ataupun mengerem, kita tidak mudah terjerembab.
Orang Amerika gemar membaca buku, maka tidak usah heran bila melihat hampir semua orang di dalam bus membaca buku ataupun novel.
Keadaan dalam bus kosong dilihat dari kursi paling belakang
Memberhentikan bus
Bila kita ingin bus berhenti di halte selanjutnya, maka kita menarik (ke bawah) semacam tali yang melintang di sepanjang jendela bus atau dengan menekan tombol di tiang tertentu sebelum bus sampai di halte tersebut.
Keluar dari bus
Setelah bus berhenti, kita bisa keluar dari pintu depan maupun pintu belakang, namun lebih dianjurkan lewat pintu belakang agar tidak memperlambat penumpang yang akan masuk. Pintu keluar dapat dibuka setelah lampu hijau di atas pintu menyala, dan kita bisa mendorong pintu tersebut (ke arah luar bus). Bagi penumpang yang menggunakan kursi roda atau membawa shopping cart maupun baby stroller maka keluarnya lewat pintu depan, karena pada pintu belakang tidak ada papan penghubung bus dan trotoar.
Bayi adalah suatu anugerah yang tak berdosa. Hampir setiap orang tua akan merasa senang dengan kehadiran sang bayi dan berusaha untuk merawatnya, membesarkannya, melindunginya, dan menyayanginya sepanjang masa. Namun ada kalanya, orang tua tidak menginginkan kehadiran sang bayi tersebut karena berbagai faktor, misalnya faktor hasil dari hubungan gelap, faktor psikologi, faktor ekonomi, dll. Alhasil, tak jarang kita membaca berita tentang bayi baru lahir yang dibuang di tempat tak layak seperti tempat sampah atau sungai.
Di Amerika ada LSM yang peduli terhadap bayi-bayi yang tidak diinginkan tersebut yaitu National Safe Haven Alliance. LSM ini membantu pemerintah di masing-masing negara bagian untuk mempromosikan Safe Haven Laws, yang intinya bahwa undang-undang Amerika ini tidak akan mengkriminalisasikan orang tua yang menyerahkan bayi baru lahir mereka "yang tak teraniaya" agar menjadi tanggungan negara. Bayi-bayi yang diserahkan ke tempat yang ditunjuk selanjutnya akan diperiksa kesehatannya, diberikan perawatan yang dibutuhkan, dan kemudian staff dari tempat tersebut akan menghubungi Department of Children and Family Services yang nantinya akan dihubungkan dengan agen adopsi.
Iklan layanan Safe Abandonen Babies di Illinois
Undang-undang ini sudah diterapkan di semua negara bagian Amerika, namun ketentuan di masing-masing negara bagian tersebut berbeda. Misalnya, di Illinois, bayi diterima bila usianya kurang dari 30 hari, dan bisa diserahkan di rumah sakit, kantor polisi, kantor pemadam kebakaran, dan unit kegawatdaruratan setempat. Sedangkan di Minnesota, bayi diterima bila usianya kurang dari 3 hari, dan tempat penyerahannya hanya di rumah sakit. Untuk informasi lebih lanjut mengenai ketentuan di masing-masing negara bagian silakan klik link berikut, atau hubungi 1-888-510-BABY. Orang tua yang menyerahkan anaknya TAK AKAN DITANYA APAPUN, hanya tinggal menyerahkan bayi ke staff di tempat yang ditunjuk dan pergi begitu saja.
Masih ingat kasus Ki Suk Han yang meninggal tertabrak kereta di subway New York akhir tahun 2012?
Ngeri ya, soalnya sebelum meninggal banyak orang yang melihat dia sedang
berusaha keluar dari jalur kereta, tapi ga ada satupun yang berusaha
menolongnya, malah ada yang sempat mengambil foto di detik-detik menjelang
kematiannya. Hal itu juga yang terjadi pada orang-orang yang melihat Kitty Genovese meninggal di
tahun 1964, hal tersebut dinamakan Sindrom Genovese atau “The Bystander
Effect.”
The Bystander effect secara ringkasnya yaitu keadaan dimana tak
ada satu orang pun yang menolong orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan,
padahal di tempat tersebut banyak orang yang menyaksikan. Anehnya, semakin
banyak orang, semakin kecil kemungkinan mereka memberikan pertolongan.
Menurut kebanyakan ahli psikologi, ada 3 proses yang gagal
dilakukan orang-orang (the bystanders) yang menyaksikan kejadian gawat darurat, yaitu:
1. Gagal mengetahui ada tidaknya kegawatdaruratan
Contoh kecilnya saja, kegawat daruratan tidak akan mudah/cepat
diketahui bila orang disekelilingnya sedang asyik mengobrol bersama orang
lainnya.
2. Gagal menginterpretasi/ mentanfsirakan apakah kejadian
tersebut kegawatdaruratan atau bukan.
Misalnya, ada orang tergeletak di jalan, orang-orang akan
berpikir bahwa yang tergeletak itu cuma lagi mabuk teler aja, atau berpikir
bahwa orang itu akan baik-baik aja.
The Bystander Effect, sumber: blog.lib.umn.edu
3. Gagal mengambil tanggung jawab
Hal ini disebabkan karena orang-orang berpikir akan ada
orang lain yang lebih berkompeten menolongnya, atau mereka merasa tidak punya
kemampuan untuk menolong.
Adapun penyebab yang sering mendasari orang untuk tidak
menolong setelah mengetahui dan menafsirkan adanya kegawatdaruratan yaitu:
1. Rasa takut
Rasa takut untuk terluka atau bahkan terbunuh saat melakukan
pertolongan memang hal yang manusiawi. Contoh kejadian orang yang mengalami
nasib malang setelah menolong orang lain misalnya kasus Hugo Alfredo Tale-Yax
yang ditusuk sampai meninggal setelah menolong wanita yang dirampok di New York
tahun 2010. Juga kasus Peng Yu di China tahun 2006, yang dituntut membayar
kurang lebih $6,900 setelah menolong seorang nenek yang terjatuh dan kemudian
melapor ke polisi bahwa dirinya didorong oleh Peng Yu.
2. Rasa acuh tak acuh
Di Amerika ini, privasi seseorang menjadi hal yang sangat
dihormati oleh orang lain. Namun, hal itu juga yang akhirnya bisa menimbulkan
rasa acuh tak acuh terhadap sesama; apalagi di daerah perkotaan dimana kejadian The Bystander Effect ini sering terjadi. Orang perkotaan biasanya bersifat heterogen,
berasal dari daerah yang bermacam-macam, sehingga kemungkinan besar tidak
saling mengenal, dan kemungkinan untuk saling menolong pun menjadi lebih kecil.
Selain itu, orang perkotaan cenderung sangat menghargai waktu, sehingga disaat
ada kegawat daruratan mereka cenderung menghindari keterlibatan, yang nantinya
bisa mengarah ke masalah hukum, walaupun itu sebagai saksi, karena tak jarang urusan
pengadilan menyita waktu seseorang, ga cuma sekali atau dua kali ke pengadilan.
Bahkan, pernah ada kasus, entah bagaimana kejadiannya, dimana status saksi
dinaikkan jadi status tersangka karena tidak adanya tersangka lain.
3. Rasa diri tidak berkompetensi untuk menolong
Contohnya, saat ada kecelakaan lalu lintas dengan korban
yang berlumuran darah dan tidak sadarkan diri, orang akan cenderung menelepon
911, agar tim bantuan medis segera datang. Hal lainnya yaitu, ketika ada dua
orang laki-laki sedang bertengkar saling pukul, dan ada satu atau dua orang
orang wanita yang lewat, spontan wanita tersebut lebih memilih diam daripada
membantu melerai karena tak merasa mampu untuk melerai 2 orang laki-laki yang
dianggap lebih kuat.
Contoh-contoh kejadian the bystander effect yang terekam kamera, sangat miris melihatnya:
Sebagai manusia yang punya naluri untuk saling menolong,
khususnya sebagai warga Indonesia / Asia yang budaya saling menolongnya masih
kental, memang hal yang dilematis ketika kita sedang berada di lingkungan yang berbeda
dengan tempat kita berasal. Seperti halnya pepatah, lain padang lain ilalang,
lain lubuk lain ikannya, maka sebelum kita hendak berbaik hati menolong
seseorang di Amerika, ada baiknya kita berpikir dua kali. Contoh yang ringan
misalnya, saat berbelanja kita melihat orang lain yang barang belanjaannya
berjatuhan. Mengapa kita harus berpikir dua kali sebelum menolong orang
tersebut? Karena rata-rata orang di sini “mandiri”, tidak mau dianggap lemah,
walaupun itu lansia, sehingga bila kita menolong tanpa diminta, bisa-bisa orang
tersebut marah dan bilang, “It’s none of your business!” Masih mending bila
urusan tadi ga dibawa ke kepolisian.
Jadi, untuk amannya, yang bisa kita lakukan ketika ada kejadian
kegawat daruratan/ kejadian yang membutuhkan pertolongan lainnya, diantaranya
sebagai berikut:
1. Hindari untuk menyentuh orang atau barang dari orang yang
sedang membutuhkan pertolongan tersebut.
Terutama bila kita sendirian atau bila korban kecelakaan yang membutuhkan medis, karena bisa-bisa
dengan pertolongan kita, yang umumnya awam P3K, malah memperparah kondisi
korban tersebut.
2. Bila orang tersebut sendiri dan sadar penuh, tanyakan dahulu apakah
orang yang hendak dibantu itu benar-benar membutuhkan pertolongan kita atau
tidak.
Misalnya dengan pertanyaan seperti ini, “Do you need help?”
atau, “Are you okay?” Tidak usah menolong kalo mereka tidak minta/ tidak
mengizinkan kita untuk menolongnya.
3. Bila situasinya termasuk hal yang gawat darurat mengenai
nyawa seseorang dan kita merasa tidak bisa menolongnya, segera hubungi 911 atau aparat keamanan terdekat.
Tulisan ini dibuat bukan untuk mengajak agar tidak menolong
orang, namun berhati-hati bila hendak menolong orang di sini, karena budaya/
orang-orang/ lingkungan di sini berbeda dengan lingkungan di Indonesia. Yah,
walaupun sekarang di Indonesia juga mulai banyak kejadian seperti ini. Hmmm…
Ada pendapat lain? Apa jadinya dunia kalo the bystander effect ini terus berkelanjutan?
Bayangkan, jika kita masih panjang umur dan menyaksikan kondisi bumi yang sudah makin memburuk, dimana sampah-sampah terutama sampah plastik yang menggunung, serta udara, tanah dan air yang semakin tercemar. Akankah nyaman hidup kita? Sadarkah kita bahwa bumi yang kita pijak saat ini bukanlah hanya milik kita saat ini saja, tetapi milik anak cucu kita juga di masa yang akan datang. Akankah kita mewariskan kondisi bumi yang sudah rusak?
Di negara yang cenderung materialistik ini, produksi dan penggunaan barang-barang baik itu yang berasal murni dari alam maupun sintetik menjadi meningkat. Contohnya saja, penggunaan kantong plastik. Tiap kita belanja, seringnya menggunakan kantong plastik baru dan kadang itupun di-double. Kalo misal tiap orang belanja pake satu kantong plastik, dan yang belanja sehari ada 100 orang; kebayang kan dalam sebulan dan setahun ada berapa kantong plastik yang terpakai dan berapa lama plastik itu bisa terurai?
Ada baiknya kita bersikap lebih ramah terhadap bumi yang telah "menyajikan" segala kebutuhan kita. Caranya, bisa dengan REUSE, REDUCE, dan RECYCLE. Nah, salah satu cara RECYCLE yang bisa kita temui secara mudah yaitu dengan membawa dan memasukkan kantong plastik yang tak terpakai ke kotak pengumpul untuk di daur ulang. Tidak perlu susah-susah cari di mana tempatnya, soalnya bisa jadi terdapat di tempat yang sering kita lewati tanpa kita sadari. Contohnya, kotak pengumpul ini bisa ditemui di pintu masuk grocery store, seperti Dominick's dan Jewel-Osco.
Kotak pengumpul dekat pintu masuk grocery store
Kotak pengumpul ini disediakan oleh suatu NGO pecinta lingkungan Earth 911. Di kotak pengumpul ini kita bisa memasukkan tak hanya kantong plastik bekas, tapi juga koran, dan kantong laundry bekas. Untuk mencari lokasi terdekat kotak pengumpul tersebut dan mencari jenis sampah lain yang dapat di daur ulang klik di sini.
Mari kita berpartisipasi dalam pendaur-ulangan sampah plastik demi kelangsungan hidup bumi yang lebih baik di masa kini dan yang akan datang.
Punya baju dan sepatu yang sudah tidak terpakai tetapi masih layak pakai? Tentunya kita bisa kasih ke saudara atau orang yang kita kenal, atau kita donasikan saat ada kegiatan amal/ bakti sosial tertentu. Atau jika memang masih sangat bagus bisa dijual di forum jual beli, contohnya forum di Facebook Business New-Old USA.
Sekarang ada alternatif lain, yaitu dengan mendonasikan pakaian/ sepatu ke kotak kolektor Gaia Movement.
Gaia Movement (Gaia diambil dari nama dewi Bumi di mitologi Yunani) yaitu sebuah NGO di Amerika Serikat yang bergerak di bidang lingkungan (environmentalist), upaya penghijauan bumi, pendaur-ulangan, dll.
Kotak kolektor ini kita bisa temui di beberapa tempat parkiran ataupun toko-toko yang mendukung gerakan tersebut. Selain di Illinois (markas utama), Gaia Movement sudah membuka cabangnya di beberapa negara bagian lain seperti: Indiana, California, Tennessee, dan Kentucky. To find their contact.
Kotak Hijau GAIA Movement
Hasil penjualan dari pakaian dan sepatu yang terkumpul akan digunakan untuk kegiatan "Go Green" bagi planet bumi ini. Beberapa contoh kegiatannya dapat dilihat di link website Gaia di atas.
Selain pihak yang mendukung kegiatan ini, ada juga beberapa pihak yang menyangsikan apa benar uang yang terkumpul dari penjualan pakaian dan sepatu tersebut digunakan untuk kegiatan berguna seperti yang Gaia Movement tampilkan di websitenya. Bagaimana dengan kita? Setuju atau tidaknya, kita kembalikan kepada masing-masing individu.
Dulu waktu masih tinggal di Indonesia rasanya lebih mudah menemukan tukang duplikat kunci. Biasanya mereka nangkring di lapak-lapak pinggir jalan. Nah kalo di Amerika? Hampir tidak pernah melihat "lapak" yang khusus menawarkan jasa tersebut.
Di Amerika, servis duplikasi kunci menjadi salah satu bagian dari suatu toko swalayan yang menjual alat-alat pertukangan dan bahan bangunan. Tapi tetap, untuk duplikasi kuncinya ada operator tersendiri. Salah satu toko yang menawarkan servis duplikasi tersebut yaitu Ace Hardware. Toko swalayan ini sudah eksis sejak tahun 1924 dan berbasis di Oak Brook, Illinois. Oh ya, Ace Hardware juga merupakan salah satu toko yang mempunyai sistem waralaba multinasional. Hal yang membuat saya terkejut, ternyata toko Ace Hardware yang terluas di dunia ini ada di INDONESIA lho, di Living World Mall Alam Sutra, Tangerang, dan sekarang sudah banyak gerai Ace Hardware di kawasan lainnya di Indonesia.
Tak semua kunci dapat diduplikasi, misalnya kunci yang butuh lisensi tertentu seperti kunci pintu masuk gedung apartemen. Untuk menemukan toko Ace Hardware terdekat dengan lokasi kita, bisa dicari lewat locator.